SOLAR CELL

Jumat, 08 Januari 2010
0 komentar
disalin dari >>> cahyamars2008 

Di bawah ini ialah paparan singkat mengenai hal-hal umum yang turut berkontribusi pada harga sel surya yang pada akhirnya dibebani kepada konsumen.

1. Biaya produksi pembuatan sel surya.

Jika kita melihat proses pembuatan sel surya dengan mengambil contoh sel surya silikon yang menempati 90% pangsa pasar sel surya saat ini, maka terlihat adanya proses produksi yang melibatkan modal besar (high capital), yakni industri semikonduktor. Industri semikonduktor ini masih merupakan industri padat modal karena bersandar pada pembuatan dan penyediaan silikon, lebih tepatnya wafer silikon. Sejatinya, silikon sendiri ialah elemen terbanyak kedua di kulit bumi setelah oksigen, sehingga harganya relatif rendah.
Hanya saja, dengan kebutuhan industri semikonduktor yang meminta kadar kemurnian silikon sangat tinggi, sekitar 1 bagian per milyar (1 ppb), biaya pemrosesan silikon untuk semikonduktor menjadi berlipat-lipat. Proses pembuatan silikon sejak dari penambangan, pemurnian dan pemotongan inilah yang memilki andil sekitar 65% dari total harga sebuah sel surya. Data tahun 2004 mengenai harga silikon dunia dengan kadar tersebut kira-kira US$ 50/kg dan terus meningkat dikarenakan adanya permintaan industri semikonduktor maupun elektronik. Pemrosesan seperti pembuatan sel dan enkapsulasi sel surya masing-masing menyumbang 10 dan 25% dari total harga sel surya.


sel-surya-komposisi.jpg

Secara kasar, saat ini, harga sebuah sel surya sekitar US$ 4-5/Watt, belum termasuk pendukungnya. Sehingga jika seorang konsumen hendak membeli sel surya dengan daya 50 Watt, maka perlu menganggarkan biaya sekitar US$ 200-250 (lihat tabel di akhir tulisan).
Agak sedikit melebar, lantas, bisakah kita membuat industri sel surya sendiri agar sel surya bisa lebih mudah terjangkau di pasar sendiri?
Pada dasarnya tentu saja hal ini sangat mungkin dengan beberapa catatan menurut opini saya.
Pertama, pembuatan silikon untuk sel surya atau semikonduktor ialah sebuah usaha padat modal yang sangat besar dari segi investasi. Dan tidak semua negara di dunia yang mampu secara teknologi melakoni pekerjaan besar ini, hanya beberapa negara saja yang mampu membuat silikon dengan kadar yang dibutuhkan maupun wafer silikon, semisal, Amerika, Jerman, Jepang dan Korea. Selain itu, industri pembuatan silikon berkadar tinggi maupun pembuatan wafer silikon ini juga menyedot tenaga listrik yang cukup besar. Namun mengingat bahan dasar silikon seperti pasir silika ini mudah ditermui di Indonesia (lihat kutipan berita Kompas di Blog ini) , dengan dukungan investor dan pemerintah, saya kira kita cukup mampu dalam hal ini. Masak calon PLTN Muria yang heboh 80 trilyun saja kita menyanggupi, membuat sebuah pabrik wafer silikon saja kurang mampu?
Kedua, jika dalam jangka pendek tujuannya ialah memasarkan sel surya sebanyak mungkin, maka kita perlu meniru langkah China dalam memasarkan sel surya di negaranya. Industri-industri China tidak membuat material dasar silikon untuk sel surya ini. Mereka juga tidak memiliki kemampuan dalam membuat mesin-mesin yang dipergunakan pabrik-pabrik mereka untuk membuat sel surya dalam skala besar.
Hanya saja, strategi mereka ialah, mengimpor mesin-mesin pabrik dari Jerman sebagai bahagian dari investasi, serta mengimpor material silikon khusus untuk sel surya dari negaa-negara lain semisal, Jerman, Jepang dan Korea Selatan. Keunggulan komparatif upah pekerja yang murah, membuat sel-sel surya made in China saat ini merajai pasaran sel surya Eropa selain menjadi tuan rumah di negara sendiri. Hal ini saya saksikan sendiri dalam ajang PVSEC-15 di Shanghai, China. Mungkin strategi ini dalam jangka pendek bisa diterapkan di Indonesia. Namun kembali lagi, kita masih menunggu peran investor dan negara dalam hal ini.

2. Biaya perangkat dan pelayanan pendukung.

Memanfaatkan sel surya untuk keperluan apapun membutuhkan perangkat pendukung yang disebut Balance of System (BOS) yang biasanya terdiri atas baterei, inverter, biaya pemasangan serta infrasturktur (lihat gambar berikut). Di sini peran BOS sangat penting sehinga semua ini (Sel surya + BOS) disebut dengan sistem fotovoltaik. Baterei serta pegontrolnya diperlukan untuk meyimpan tenaga listrik untuk pemakaian di malam hari jika diperlukan. Inverter dibutuhkan untuk mengubah keluaran sel surya yang berarus DC menjadi AC sesuai dengan keperluan perumahan. Dan instalasi diperlukan untuk menyelaraskan bentuk (atap) rumah dengan berapa luas sel surya atau daya yang dibutuhkan agar optimal.

bipv-structure-2.jpg

Gambar di bawah ini sedikit menggambarkan berapa porsi anggaran yang dibutuhkan pada saat pemasangan dan perbandingannya pada 20 tahun kemudian. Asumsi memakai 1300 Watt menggunakan baterei 35 Ah. Literatur ini menggunakan negara Meksiko sebagai contohnya.

harga-bos.jpg

Di sana terlihat bahwa komponen baterei yang memiliki masa pakai optimum yang terbatas (sekitar 4 tahun), memerlukan perhatian khusus terutama karena adanya penambahan biaya ekstra untuk penggantian baterei baru.
Secara perhitungan kasar, harga Sel surya + BOS ini mencapai US$ 8-10/Watt. Sehingga jika hendak menggunakan sel surya di perumahan lengkap dengan sarana pendukungnya untuk 1300 Watt atau 1.3 kW, maka biaya kasar yang perlu diperlukan kira-kira 1300 Watt x (US$ 8 – 10) = US$ 10.400 – 13.000 atau jika di-rupiah-kan sekitar Rp 98.880.000 – 117.000.000 dengan masa pakai 20 tahun lebih dan biaya tambahan untuk penggantian baterei per 4-5 tahun sekali.
Tabel di bawah merupakan simulasi perhitungan biaya yang diperlukan untuk memasang sel surya di sebuah rumah dengan kapasitas daya terpasang sebesar 50 Watt. Jika hendak memasang sel surya di rumah dengan daya 1000 Watt mirip dengan rata-rata daya terpasang pada rumah di Indonesia dari PLN, maka harga total tinggal dikalikan saja dengan 20.

tabel-harga-sel.jpg

Semoga bermanfaat.

Rujukan :
Antonio Luque and Steven Hegedus, Handbook of Photovoltaic Science and Engineering, John Wiley and Sons, 2003.
Yasuto Maruoka, Cost effectiveness of solar modules on the international photovoltaic markets, Proceedings of 17th International Photovoltaic Science and Engineering Conference, Fukuoka, Japan, December 2-7, 2007.
Baca selengkapnya »

listrik

0 komentar
Dokumen cahyamars2008.wordpress.com


penghematan energi adalah salah satu cara yang mungkin paling mudah untuk menyiasati berkurangnya pasokan BBM bagi pembangkit listrik di Indonesia.

Terkait dengan penghematan energi listrik tersebut, Cahya_mars bermaksud untuk berpartisipasi menyediakan fasilitas listrik alternatif di Kota Tulungagung dengan berbagai macam produk yang kami miliki

menyediakan jasa penjualan peralatan hemat listrik diantaranya :

  1. Pembangkit Listrik Tenaga Surya ( PLTS )
Listrik yag dihasilkan berasal dari sinar matahari tersebut dapat menyalakan lampu 10 Watt sebanyak 3 Unit dalam waktu 10-12 Jam (pemakaian hemat) dapat bertahan selama 3 hari (apabila tanpa matahari/hujan/mendung). Dapat menghemat untuk kebutuhan Listrik rumah dan cocok untuk Back-Up, BTS,Pedesaan, Hutan dll yang jauh dari aliran listrik PLN.




b. Pembangkit Listrik Kincir Angin ( PLKA )
Listrik yang dihasilkan dari kincir angin, sosok untuk daerah pesisir dan pegunungan

c. Pembangkit Listrik Micro Hidro ( PLMH )
Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hydro merupakan alat yang menghasilkan listrik dengan menggunakan sumber tenaganya air
Pembangun PLTMH secara terpadu dengan kolam ikan memberikan keuntungan ekonomi yang lebih baik




d. Peralatan komputer hemat Listrik (hanya 3 Watt)

PC-Station adalah sebuah teknologi terbaru yg dpt memaksimalkan sebuah komputer
hingga dapat digunakan secara bersamaan dengan 30User/clien.
Sehingga anda tidak perlu menambah PC / CPU dalam penambahan user/clien.
Dengan menggunakan penghubung swithub/rooter dapat digunakan hingga jarak 100M

Digunakan Untuk kantor, Warnet, Laboratorium, selain hemat litrik juga dapat menghemat biaya pembelias program aplikasi original.
Kami menyediakan produk PC Station, berfungsi sebagai pengganti cpu/client dengan daya listrik 3watt ( bandingkan dengan komputer
dengan daya listrik 150watt hingga 200watt)



Baca selengkapnya »

solar cell

Kamis, 07 Januari 2010
0 komentar
MENGAPA SOLARCELL MAHAL ? Juli 4, 2008
Posted by cahyamars2008 in energi.
add a comment

Di bawah ini ialah paparan singkat mengenai hal-hal umum yang turut berkontribusi pada harga sel surya yang pada akhirnya dibebani kepada konsumen.

1. Biaya produksi pembuatan sel surya.

Jika kita melihat proses pembuatan sel surya dengan mengambil contoh sel surya silikon yang menempati 90% pangsa pasar sel surya saat ini, maka terlihat adanya proses produksi yang melibatkan modal besar (high capital), yakni industri semikonduktor. Industri semikonduktor ini masih merupakan industri padat modal karena bersandar pada pembuatan dan penyediaan silikon, lebih tepatnya wafer silikon. Sejatinya, silikon sendiri ialah elemen terbanyak kedua di kulit bumi setelah oksigen, sehingga harganya relatif rendah.

Hanya saja, dengan kebutuhan industri semikonduktor yang meminta kadar kemurnian silikon sangat tinggi, sekitar 1 bagian per milyar (1 ppb), biaya pemrosesan silikon untuk semikonduktor menjadi berlipat-lipat. Proses pembuatan silikon sejak dari penambangan, pemurnian dan pemotongan inilah yang memilki andil sekitar 65% dari total harga sebuah sel surya. Data tahun 2004 mengenai harga silikon dunia dengan kadar tersebut kira-kira US$ 50/kg dan terus meningkat dikarenakan adanya permintaan industri semikonduktor maupun elektronik. Pemrosesan seperti pembuatan sel dan enkapsulasi sel surya masing-masing menyumbang 10 dan 25% dari total harga sel surya.

sel-surya-komposisi.jpg

Secara kasar, saat ini, harga sebuah sel surya sekitar US$ 4-5/Watt, belum termasuk pendukungnya. Sehingga jika seorang konsumen hendak membeli sel surya dengan daya 50 Watt, maka perlu menganggarkan biaya sekitar US$ 200-250 (lihat tabel di akhir tulisan).

Agak sedikit melebar, lantas, bisakah kita membuat industri sel surya sendiri agar sel surya bisa lebih mudah terjangkau di pasar sendiri?

Pada dasarnya tentu saja hal ini sangat mungkin dengan beberapa catatan menurut opini saya.

Pertama, pembuatan silikon untuk sel surya atau semikonduktor ialah sebuah usaha padat modal yang sangat besar dari segi investasi. Dan tidak semua negara di dunia yang mampu secara teknologi melakoni pekerjaan besar ini, hanya beberapa negara saja yang mampu membuat silikon dengan kadar yang dibutuhkan maupun wafer silikon, semisal, Amerika, Jerman, Jepang dan Korea. Selain itu, industri pembuatan silikon berkadar tinggi maupun pembuatan wafer silikon ini juga menyedot tenaga listrik yang cukup besar. Namun mengingat bahan dasar silikon seperti pasir silika ini mudah ditermui di Indonesia (lihat kutipan berita Kompas di Blog ini) , dengan dukungan investor dan pemerintah, saya kira kita cukup mampu dalam hal ini. Masak calon PLTN Muria yang heboh 80 trilyun saja kita menyanggupi, membuat sebuah pabrik wafer silikon saja kurang mampu?

Kedua, jika dalam jangka pendek tujuannya ialah memasarkan sel surya sebanyak mungkin, maka kita perlu meniru langkah China dalam memasarkan sel surya di negaranya. Industri-industri China tidak membuat material dasar silikon untuk sel surya ini. Mereka juga tidak memiliki kemampuan dalam membuat mesin-mesin yang dipergunakan pabrik-pabrik mereka untuk membuat sel surya dalam skala besar.

Hanya saja, strategi mereka ialah, mengimpor mesin-mesin pabrik dari Jerman sebagai bahagian dari investasi, serta mengimpor material silikon khusus untuk sel surya dari negaa-negara lain semisal, Jerman, Jepang dan Korea Selatan. Keunggulan komparatif upah pekerja yang murah, membuat sel-sel surya made in China saat ini merajai pasaran sel surya Eropa selain menjadi tuan rumah di negara sendiri. Hal ini saya saksikan sendiri dalam ajang PVSEC-15 di Shanghai, China. Mungkin strategi ini dalam jangka pendek bisa diterapkan di Indonesia. Namun kembali lagi, kita masih menunggu peran investor dan negara dalam hal ini.

2. Biaya perangkat dan pelayanan pendukung.

Memanfaatkan sel surya untuk keperluan apapun membutuhkan perangkat pendukung yang disebut Balance of System (BOS) yang biasanya terdiri atas baterei, inverter, biaya pemasangan serta infrasturktur (lihat gambar berikut). Di sini peran BOS sangat penting sehinga semua ini (Sel surya + BOS) disebut dengan sistem fotovoltaik. Baterei serta pegontrolnya diperlukan untuk meyimpan tenaga listrik untuk pemakaian di malam hari jika diperlukan. Inverter dibutuhkan untuk mengubah keluaran sel surya yang berarus DC menjadi AC sesuai dengan keperluan perumahan. Dan instalasi diperlukan untuk menyelaraskan bentuk (atap) rumah dengan berapa luas sel surya atau daya yang dibutuhkan agar optimal.

bipv-structure-2.jpg

Gambar di bawah ini sedikit menggambarkan berapa porsi anggaran yang dibutuhkan pada saat pemasangan dan perbandingannya pada 20 tahun kemudian. Asumsi memakai 1300 Watt menggunakan baterei 35 Ah. Literatur ini menggunakan negara Meksiko sebagai contohnya.

harga-bos.jpg

Di sana terlihat bahwa komponen baterei yang memiliki masa pakai optimum yang terbatas (sekitar 4 tahun), memerlukan perhatian khusus terutama karena adanya penambahan biaya ekstra untuk penggantian baterei baru.

Secara perhitungan kasar, harga Sel surya + BOS ini mencapai US$ 8-10/Watt. Sehingga jika hendak menggunakan sel surya di perumahan lengkap dengan sarana pendukungnya untuk 1300 Watt atau 1.3 kW, maka biaya kasar yang perlu diperlukan kira-kira 1300 Watt x (US$ 8 – 10) = US$ 10.400 – 13.000 atau jika di-rupiah-kan sekitar Rp 98.880.000 – 117.000.000 dengan masa pakai 20 tahun lebih dan biaya tambahan untuk penggantian baterei per 4-5 tahun sekali.

Tabel di bawah merupakan simulasi perhitungan biaya yang diperlukan untuk memasang sel surya di sebuah rumah dengan kapasitas daya terpasang sebesar 50 Watt. Jika hendak memasang sel surya di rumah dengan daya 1000 Watt mirip dengan rata-rata daya terpasang pada rumah di Indonesia dari PLN, maka harga total tinggal dikalikan saja dengan 20.

tabel-harga-sel.jpg

Semoga bermanfaat.

Rujukan :

Antonio Luque and Steven Hegedus, Handbook of Photovoltaic Science and Engineering, John Wiley and Sons, 2003.

Yasuto Maruoka, Cost effectiveness of solar modules on the international photovoltaic markets, Proceedings of 17th International Photovoltaic Science and Engineering Conference, Fukuoka, Japan, December 2-7, 2007.
Baca selengkapnya »

Phone

0 komentar
KabarIndonesia - Smartphone Nexus One dari Google menantang iPhone dan BlackBerry yang sukses duluan di pasar ponsel internet. Konsumen kini masih cenderung mengamati dan menunggu perkembangan pasar.
 
Google secara resmi memperkenalkan smartphone buatannya yang diberi nama Nexus One. Dengan begitu persaingan di pasar internet mobil kini semakin ketat. Nexus One digagas Google sebagai jawaban atas sukses yang diraih “Apple“ dengan iPhone-nya dan “Research in Motion“ dengan Black Berry-nya yang selama ini merajai pasar ponsel internet.

Manager produksi Google, Erick Tseng mempromosikan, Nexus One menggabungkan desain dan fungsi secara sempurna. Ponselnya memang berukuran lebih ringkas dan lebih ringan dibanding iPhone atau Black Berry. Ponsel buatan HTC dari Taiwan itu dilengkapi fitur standar layar OLED, dua mikrofon dan sebuah kamera dengan resolusi lima Mega Pixel, serta trackball untuk memudahkan kendali interface oleh para penggunanya.

Kecepatan prosesor Snapdragon pada ponsel mencapai satu Gigahertz, yang berarti melebihi kecepatan prosesor kedua pesaing terkuatnya. Sistem operasinya menggunakan Android versi 2.1. Selain menyasar iPhone dan BlackBerry, Nexus One juga dirancang untuk menyaingi Smartphone lainnya yang memanfaatkan sistem operasi Google-Andorid.

Para pengamat teknologi ponsel menilai positif keputusan Google untuk memanfaatkan sistem operasi Android sebagai platform teknologi ponselnya. Jim McGregor direktur pengembangan teknologi In-Sat dari AS mengatakan, dengan itu ponsel baru buatan Google dapat mendorong mitra-mitranya hanya mengembangkan sebuah platform sistem operasi, yang dapat terus diaktualisasi.

Nexus One terutama memfokuskan fungsi fiturnya pada operasi web dari Google. Dalam arti fungsi-fungsi yang umum pada Google dapat dimanfaatkan dengan mudah lewat ponsel tsb. Misalnya saja Nexus One dapat langsung mengunggah foto ke Picasa dan video ke You Tube. Selain dilengkapi fitur standar touch screen atau layar sentuh, ponsel terbaru dari Google itu juga bereaksi lewat perintah lisan.

Saat ini, ponsel Nexus One baru dijual di beberapa negara, yakni di AS, Inggris Hongkong dan Singapura. Harganya sekitar 180 US Dolar dengan kontrak langganan dua tahun pada provider T-Mobile USA atau beli putus seharga sekitar 530 US Dolar. Untuk AS Google menjual ponselnya secara langsung. Tapi untuk Eropa,

Google akan bekerjasama dengan provider Vodafone untuk memasarkan Nexus One dalam beberapa bulan mendatang. Para pengamat pasar ponsel menilai, harga yang ditawarkan Nexus One terlalu mahal. Analist Jeff Rath dari Canaccord Adams mengatakan, sebetulnya Google dapat memberikan ponselnya secara gratis, bagi pelanggan yang terikat kontrak selama dua tahun.

Sementara analis pasar ponsel dan internet dari AS, Forrester Research menyebutkan para konsumen masih mengamati dan menunggu. Saat ini baru sekitar 17 persen pelanggan ponsel di AS memanfaatkan layanan smartphone, yang didominasi iPhone dan BlackBerry. Walaupun masih dilanda resesi berat, analis pasar ponsel mengharapkan pertumbuhan penjualan ponsel sekitar dua persen di tahun 2010 ini.

Dengan kehadiran Nexus One, pasarnya akan semakin semarak. Dan tentu saja persaingannya akan lebih tajam lagi. Produsen ponsel yang tidak mampu mengikuti kemajuan teknologi ini, diperkirakan secara perlahan akan tersingkir dari pasar. 
Baca selengkapnya »

home

Rabu, 06 Januari 2010
0 komentar
Dokumen kompas.com
 
Mudahnya Merancang Rumah Sendiri

Kamis, 31 Desember 2009 | 13:04 WIB Merancang rumah tanpa bekal ilmu yang relevan seringkali menjadi masalah. Urusan yang satu ini sebaiknya memang diserahkan saja kepada ahlinya, yaitu para arsitek. Tapi, jika Anda keukeuh ingin mencoba merancang sendiri, ya boleh-boleh saja.

Banyak software yang bisa membantu Anda merancang rumah sendiri. Bukan software yang rumit seperti Autocad atau sejenisnya loh ya. Ada kok perangkat lunak untuk merancang yang pemakaiannya lebih simpel. Salah satunya adalah Sweet Home 3D.

Aplikasi gratisan ini dapat dimanfaatkan untuk mendesain bangunan tempat tinggal dalam lingkup sederhana. Anda bisa menggunakannya untuk membuat denah rumah dan mengatur tata letak perabot rumah. Cara pakainya sangat simpel, karena menggunakan sistem drag-and-drop.

Hasilnya bisa Anda lihat secara real-time dalam bentuk 3D —meski saat membuatnya menggunakan format 2D. Anda dapat melongoknya seakan-akan masuk ke dalam rancangan rumah tersebut melalui fitur virtual tour. Keren, kan?

Berminat mencoba aplikasi gratisan ini? Ikuti langkah-langkah berikut.


1. Unduh, instal, dan jalankan aplikasi Sweet Home 3D (bisa diperoleh di www.sweethome3d.eu). Anda akan melihat tiga jendela dalam aplikasi tersebut—jendela sisi kiri berisi komponen penyusun rumah (jendela hingga perabot), sisi kanan-atas berisi area kerja gambar, dan sisi kanan bawah berisi preview 3D rancangan.

2. Ubah satuan ukur aplikasi. Klik [File] > [Preferences…]. Di boks "Preferences", pilih [Meter] pada menu "Unit". Jika ingin dapat mengaplikasikan warna dan tekstur pada rumah, klik [Floor color or texture]. Klik [OK].

3. Mulailah membuat rancangan denah rumah. Pastikan Anda telah mengetahui ukuran luas bangunan. Klik tombol [Create Walls]. Buatlah dinding utama rumah dengan mengklik-tarik pointer hingga membentuk garis. Jika sudah selesai, klik-dobel pointer untuk menghentikan proses pembuatan dinding.


4. Tampilan 3D dinding rumah akan langsung muncul di jendela sisi kanan bawah aplikasi. Anda bisa membentuk dinding dalam rumah melalui tombol [Create Room]. Cara penggunaannya sama dengan membentuk dinding. Tool ini akan membuat area ruang plus menampilkan ukurannya.

5. Setelah ruangan-ruangan terbentuk, buatlah dinding ruangan dengan [Create Walls] kembali. Setelah terbentuk, modifikasi setiap ruangan dengan mengklik-kanan salah satu ruangan, lalu klik [Modify rooms…] dari menu yang muncul.

6. Beri nama ruangan pada "Name". Pilih warna atau tekstur untuk lantai dan langit-langit di dua menu di bawah. Untuk mengganti lantai menjadi lantai keramik, centangi [Display Color], klik [Texture] dan tombol di sampingnya, lalu pilih tekstur lantai yang diinginkan. Klik [OK]. Lantai akan terlihat di jendela ruangan 3D.

7. Modifikasi dinding dengan mengklik-kanan salah satu dinding di jendela kanan atas, lalu klik [Modify walls...]. Kelola warna dan tekstur di menu "Left Side" dan "Right Side". Masing-masing permukaan dinding dapat diatur. Anda juga dapat mengelola ketebalan sampai ketinggian dinding di menu lain. Klik [OK].

8. Buatlah pintu dan jendela. Klik segitiga di opsi [Doors and windows] yang ada di jendela sisi kiri atas. Buat kusen lebih dulu. Klik [Door frame], lalu tarik ke jendela kanan atas. Tempatkan pada posisi yang diinginkan. Jika ingin ukurannya diubah, klik-dobel kusen, lalu atur ukuran di boks yang muncul. Klik [OK].

9. Selanjutnya, masukkan pintu dengan mengklik-tarik [Door] ke arah kusen. Perhatikan arah bukaan pintu. Jika garis lengkung berada di dalam ruangan, berarti bukaan pintu mengarah ke dalam. Anda bisa memasang jendela dengan cara yang sama memakai komponen berlabel “Windows”. Pilih jenis jendela yang dikehendaki.

10. Setelah bangunan selesai, Anda bisa merancang tatanan perabot di dalam rumah. Pilih jenis perabotan dari menu jendela kiri atas. Untuk dapur misalnya, cari perabot di “Kitchen”. Klik-tarik perabot yang diinginkan di posisi ruangan dapur. Tata posisi dan arahnya.

11. Tampilan 3D rancangan rumah Anda dapat dirotasi dengan mengklik-tarik gambar di jendela kanan bawah agar Anda dapat melihat seluruh posisi ruangan. Anda bisa mengunjungi setiap ruangan dengan mengklik [3D view] > [Virtual visit].


12. Simpan rancangan Anda untuk dikonsultasikan ke arsitek atau kontraktor. Klik [File] > [Save]. Beri nama dan simpan. Ingat, file ini hanya dapat disimpan dalam format bawaannya. Jika ingin dikirim ke pihak lain, simpanlah dalam format PDF dengan mengklik [File] > [Print to PDF...].
Baca selengkapnya »

car

0 komentar
Rabu, 6/1/2010 | 10:32 WIB
NEW DELHI, KOMPAS.com — India kini telah menjadi sasaran utama produsen dunia untuk membuat mobil-mobil dengan harga murah. Terakhir, menurut Society of Indian Automobile Manufacturer atau SIAM, Honda juga sudah siap menawarkan mobil penumpang jenis hatchback seharga Rs 4 lakh-Rs 4,5 lakh. Kalau dikonversi ke rupiah pada saat ini, harga itu antara Rp 80 juta dan Rp 90 juta.

Sampai diperkenalkan pada 10th New Delhi Auto Expo 2010 kemarin, belum ada spesifikasi detail tentang mobil tersebut. Namun, berdasarkan informasi umum, mobil baru ini berukuran lebih kecil dibanding Honda Jazz.

Kita di Indonesia boleh saja cemburu. Pasalnya, Honda bisa menawarkan harga mobil yang terjangkau bagi konsumen di India. Sementara itu, untuk memperoleh Honda Jazz terbaru, konsumen Indonesia harus mengeluarkan dana hampir Rp 200 juta. Sebagai pembanding, di India, harga Honda Jazz termurah sekitar Rp 140 juta.

India dan Thailand
Baik Honda maupun mitranya di India, Honda Siel India (HSI), belum memberi nama pada mobil kecil dengan rancangan yang benar-benar baru ini. Namun, saat diperkenalkan kemarin dijelaskan bahwa mobil ini akan diproduksi tahun depan di India dan Thailand.

Penampilan Honda baru ini sangat menarik. Foto yang dirilis Honda dan unit yang dipamerkan indentik. Mobil ini dipenuhi dengan konsep terkini, yaitu menggunakan lampu-lampu LED. Adapun grille merupakan pembaruan dari Honda Jazz.

Bentuk keseluruhan mirip konsep coupe, dengan bagian belakang atau pilar C dibuat sangat miring. Selain itu, ada garis-garis samping bodi yang membuat penampilan mobil kecil tampak sporty dan gaya.

Berdasarkan informasi yang beredar, mobil ini akan menggunakan mesin VTEC 1,0 liter atau mesin 1,2 liter. Di India, si kecil akan berhadapan dengan Hyundai i20 dan Suzuki (Maruti) Swift yang sudah lebih dulu mendapat tempat di hati konsumen India.

Produk khusus Honda ini dikembangkan secara bersamaan antara Honda Thailand dan India. Di India, Honda merakitnya di Greater Noida. Yang juga menarik, Honda Motors Jepang telah mengirim letter of intent (LOI) kepada para vendor di India, detail desain, mesin, dan spesifikasi mobil. Tujuannya agar Honda bisa mendapatkan pasokan komponen murah di India.

Dikatakan pula, Honda akan menggunakan pabrik mereka di Thailand dan India sebagai basis untuk memperoduksi mobil ini. Setelah itu, mobil diekspor ke negara-negara berkembang. Untuk itu, di India, Honda merekrut 30 insinyur sebagai tim riset dan pengembangan di Greter Noida.

Mereka selanjutnya akan bekerja sama dengan tim di Bangkok untuk mengembangkan mobil kecil tersebut. Di samping itu, mereka juga fokus menurunkan biaya pembuatan mobil dengan mengoptimalkan berbagai harga komponen.
Baca selengkapnya »

honda

0 komentar
Honda Akan Boyong Mobil Termurah Ke Indonesia ?
Kalau benar di bawah Rp100 juta, wah bisa laku keras di Indonesia
Rabu, 6/1/2010 | 14:16 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Honda Motor Co melakukan gebrakan dengan meluncurkan produk termurah di India dengan harga di bawah Rp 100 juta. Kebetulan, Indonesia kini tengah mencanangkan produksi mobil murah dan ramah lingkungan. Apa Honda Indonesia akan memboyong produk Honda Seil India tersebut?

"Kami belum ada rencana ke situ. Semua model masih terus dipelajari," ujar Jonfis Fandy, Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual PT Honda Prospect Motor (HPM) kepada Kompas.com, Rabu (6/1/2010).

Sekadar informasi, produk mobil murah Honda tersebut dikembangkan secara kolaboratif antara Honda Thailand dan India. Produksi massal sesuai rencana akan dilaksanakan pada 2011. Di India, Honda merakitnya di Greater Noida. Selain itu, pabrikan juga berencana memboyong produk tersebut untuk diproduksi di Thailand.

India dan Thailand dipilih prinsipal sebagai basis produksi. Setelah itu, mobil diekspor ke negara-negara berkembang. Tim riset dan pengembangan Honda di Greater Noida akan bekerja sama dengan tim di Bangkok untuk mengembangkan mobil kecil tersebut.

Jika produksi mobil murah sudah dilakukan di Thailand, maka HPM selaku ATPM mobil Honda di Indonesia akan mudah memasukkan mobil itu ke Indonesia. Bea Masuk yang dibebankan ke CBU dari ASEAN pun terbilang kecil, hanya 5 persen.

Jonfis pun tertawa ketika ditanya rencana impor dari Thailand. "Anda bisa saja. Belum ada rencana-lah, lihat saja nanti," papar Jonfis
Baca selengkapnya »

Dimana ya ?

 

FEEDJIT Live Traffic Map

Information

Website Meter

free counters

@

online counter

004 -> 03042010

free counters
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

About Me

Foto saya
Muara bengawan solo, MBS_CT101-Msi, Indonesia
SEGALANYA BERAWAL DARI KEYAKINAN, perubahan adalah sesuatu yang abadi... HARAPAN SELALU MEMBERIKAN SEMANGAT UNTUK SELALU BERJUANG...

Tentang Kami

 

© 2010 Ruang, waktu...